Just another WordPress.com site

enterpreneur vs self employes

Oleh: Billy, Boen.

Posted in My Notes.

Ketika saya twit “A lot of

people CONFUSED between

entrepreneurship and

self-employed.

self-employed ngakunya

entrepreneur. Too bad…”,

ada yang bertanya,

“Emang bedanya apa?

Tolong jelaskan.”

Karena itulah saya akan

coba terangin bedanya…

Di buku “Rich Dad Poor

Dad” karangan Robert T.

Kiyosaki, dia menjelaskan

adanya suatu Quadrant:

E = Employee (Karyawan).

Kerja untuk orang lain

S = Self Employed.

Mempekerjakan dirinya

sendiri

B = Business Owner

(Pengusaha). Memiliki

perusahaan yg memiliki

sistem & mempekerjakan

orang lain

I = Investor. Berinvestasi,

memiliki asset (barang /

benda yang menghasilkan

uang)

Kalau E dan I ngga usah

dijelasin ya, karena sudah

jelas. Tapi, saya tahu

benar bahwa di Indonesia

banyak yang S tapi

ngakunya B. Bedanya apa?

Gini…

Kalo S itu, ketika dia lagi

tidur, lagi sakit, lagi

liburan, lagi males… dia

ngga mendapatkan

penghasilan. Alias ngga

ada uang yang akan dia

terima. Karena apa?

Karena uang akan dia

dapatkan ketika dia

melakukan pekerjaannya.

Siapa sajakah S? Dokter,

MC, Presenter, Host Radio/

TV, Pembicara Seminar,

Freelance Graphic

Designer, Freelance

Arsitektur, dsb.

Kalo B (pengusaha), ketika

dia lagi tidur, lagi sakit,

lagi liburan,… dia tetap

akan mendapatkan

penghasilan, kalau

bisnisnya sudah jalan

(menghasilkan uang lebih

dari pengeluaran). Siapa

sajakah B? Pemilik

perusahaan apapun yang

memiliki karyawan selain

dirinya sendiri, mulai dari

pemilik restoran, pemilik

creative agency, pemilik

website, pemilik klub bola,

dsb.

Jujur, inilah buku yang

membuat saya untuk mulai

berpikir untuk mendirikan

PT Jakarta International

Management di tahun 2006.

Ini adalah ancang-ancang

saya untuk keluar dari ‘rat

race’ yang dijelaskan oleh

Robert T. Kiyosaki di

bukunya itu.

Saya pengen banget untuk

bisa punya passive

income. Pemikiran dan

kenyataan bahwa kita bisa

untuk tetap dapet duit

tanpa ngelakuin apapun…

yang ‘menampar’ saya

kala itu. Waktu itu saya

masih sebagai GM Oakley

Indonesia, dan kalau saya

ngga lakuin apa-apa di

hari-hari saya menjabat

posisi tersebut, sama aja

kaya makan gaji buta. Dan

saya tahu benar ini ngga

boleh saya lakukan.

Itulah sebabnya akhirnya

kenapa saya beranikan

diri untuk banting setir dan

jadi B (PT JIM & Rolling

Stone Cafe), meski sekali-

kali saya tetap jadi S

untuk sekalian berbagi,

ketika saya jadi pembicara

maupun Host di radio.

S & B sama-sama tidak

terikat dengan jam kerja.

Tapi, S hanya dapat uang

ketika dia kerja. Kalau B,

ketika dia lagi ngga

ngapa2in, lagi ngopi dan

ketawa-tawa sama teman-

temannya, (kalau

perusahaannya untung)

uang terus mengalir saat

itu juga… enak kan?

Saya hanya menjelaskan

apa itu S & B ya, bukan

berarti saya bilang B pasti

lebih enak daripada S.

Kalau perusahaannya rugi

terus, ya mending jadi S.

ATAU, berusaha

semaksimal mungkin, untuk

jadiin tuh perusahaan

untung. Simple kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s