Just another WordPress.com site

kisah 3 putri

Dikisahkan ada
seorang pria kaya
raya dan tiga anak
perempuannya yang
tinggal di sebuah
rumah besar dan
indah. Dari kejauhan,
terlihat juga rumah-
rumah yang ditinggali
oleh para tukang
kayu, pembuat kapal,
dan banyak lagi orang
dengan profesi
berbeda. Banyak dari
mereka termasuk
orang yang jujur, tapi
banyak juga yang
terlalu egois karena
terbuai kemewahan
harta benda.
Pria kaya raya tadi
punya rencana untuk
menghapus sifat
tersebut, dan ia
memutuskan agar
ketiga putrinya
menyamar menjadi
orang miskin. Masing-
masing dari mereka
diberi sekantung
emas untuk diberikan
pada orang yang mau
menolong mereka.
Kemudian, pria tadi
dan ketiga anaknya
mulai berkeliling. Di
rumah pertama,
mereka mengetuk
pintu dan seseorang
pun membukakan
pintu dan berkata,
“Tidak. Kami tidak
punya kamar atau
makanan untuk
pengemis.” Lalu
menutup pintu.
Di rumah berikutnya,
mereka mengetuk
pintu lalu berkata
pada orang yang
membukakan pintu
“bisakah Anda
memberi makan dan
tempat berlindung
untuk kami?”
“Kami tak punya
makanan untuk
dibuang-buang, dan
rumah kami hampir
tidak cukup untuk diri
kami sendiri.” Lalu
menutup pintu.
Mereka berkata pada
ayah mereka,
“haruskah kita
teruskan?”. Ayah
mereka menjawab,
“Masih ada dua lagi.
Kita lihat siapa yang
tidak egois. Karena
kalian sebenarnya
tidak membutuhkan
bantuan, kalian bisa
berhenti jika ditolak.”
Sampailah mereka di
rumah berikutnya.
“Yang ini kelihatan
lebih meriah daripada
yang lain. Kita pasti
akan diterima.” Dan
sang ayah tetap
mengawasi mereka
sambil bersembunyi.
Ketika pintu dibuka,
muncullah seorang
gadis. “Bisakah kau
memberi kami makan
dan tempat berteduh
selama satu
malam?” kata salah
seorang dari mereka.
“Tidak. Kami baru
saja menghabiskan
uang untuk saudara
kami, Jack, yang baru
saja kembali dari laut.
Kami juga tidak bisa
karena kami tidak
punya satu
kamarpun yang
tersisa, sebab semua
teman-teman kami
ada di sini.”
“Tapi kami lelah, dan
butuh tempat
beristirahat dan
makanan” Kata salah
seorang dari mereka
sambil melihat meja
yang penuh dengan
makanan.
“Ya, tapi kami hanya
punya untuk diri kami
sendiri dan teman-
teman kami. Bukan
untuk pengemis”
kata gadis itu, lalu
menutup pintu.
“Haruskah kami
melanjutkan, ayah?”
kata mereka.
“Satu kali ini saja, ini
yang terakhir.”
Katanya sambil
mengantar mereka
ke rumah seorang
janda miskin.
Mereka berhenti
sejenak di depan
rumah, karena
mereka mendengar
suara seseorang
yang sedang berdoa,
“Berilah rizki pada
hamba, maafkan
kesalahan hamba,
dan jangan biarkan
hamba tergoda.”
Ia kemudian berdiri
setelah mendengar
suara ketukan pintu.
Setelah membuka
pintu, ia tersenyum
pada ketiga gadis
tadi.
“Aku punya tempat
berteduh, tapi tak
punya makanan.
Masuklah.”
Mereka kemudian
masuk.
“Aku tak punya
makanan, tapi
marilah dekat
perapianku ini. Udara
di luar sangat dingin,
dan kalian pasti
butuh istirahat.”
Ia kemudian berkata,
“Aku senang kalian
datang sekarang, aku
tak punya bahan
bakar lagi, dan jika
kalian datang besok
pasti di sini gelap dan
dingin.”
Ketiga gadis tadi
kemudian
mengeluarkan emas
yang ada di kantung
mereka. Wanita tadi
pun terkejut dan
tidak bisa berkata-
kata melihatnya.
“Ini dari ayah kami,
karena Anda telah
menolong kami yang
sedang menyamar”.
lalu mereka
meletakkan emas di
meja.
“Tuhan pasti akan
memberi rizki pada
orang yang mau
membantu orang
lain.” kata sang ayah
yang kemudian
muncul.
Pagi harinya, orang-
orang ramai
membicarakan emas
yang didapat oleh
wanita tadi. Mereka
menyesal kenapa
mereka tidak
menolong tiga gadis
yang menyamar tadi.
“Biarlah pengalaman
ini menjadi pelajaran
untuk seumur hidup
kalian, agar menolong
orang lain yang
sedang
membutuhkan.”
“Tapi mereka
sebenarnya tidak
kelaparan dan
kedinginan!” Kata
salah seorang dari
penduduk.
“Kalian menghadapi
hal yang sama,
karena sebenarnya
saat itu kalian semua
tidak tahu bahwa
mereka menyamar.”
Mereka pun terdiam,
karena itu memang
benar.
Tapi pelajaran
tersebut tidak hanya
bertahan sementara,
sebab mereka telah
berubah dan tidak
pernah lagi menutup
pintu untuk orang
asing yang sedang
membutuhkan.
“Kesempatan-
kesempatan besar
untuk membantu
orang lain jarang
datang, tapi yang
kecil ada di
sekeliling kita
setiap hari.” – Sally
Koch

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s