Just another WordPress.com site

semangku bakso cinta

Dikisahkan, biasanya
di hari ulang tahun
Putri, ibu pasti sibuk
di dapur memasak
dan menghidangkan
makanan
kesukaannya. Tepat
saat yang ditunggu,
betapa kecewa hati
si Putri, meja makan
kosong, tidak
tampak sedikit pun
bayangan makanan
kesukaannya
tersedia di sana. Putri
kesal, marah, dan
jengkel.
“Huh, ibu sudah tidak
sayang lagi padaku.
Sudah tidak ingat hari
ulang tahun anaknya
sendiri, sungguh
keterlaluan,”
gerutunya dalam hati.
“Ini semua pasti
gara-gara adinda
sakit semalam
sehingga ibu lupa
pada ulang tahun dan
makanan
kesukaanku. Dasar
anak manja!”
Ditunggu sampai
siang, tampaknya
orang serumah tidak
peduli lagi kepadanya.
Tidak ada yang
memberi selamat,
ciuman, atau
mungkin memberi
kado untuknya.
Dengan perasaan
marah dan sedih,
Putri pergi
meninggalkan rumah
begitu saja. Perut
kosong dan pikiran
yang dipenuhi
kejengkelan
membuatnya
berjalan
sembarangan. Saat
melewati sebuah
gerobak penjual
bakso dan mencium
aroma nikmat, tiba-
tiba Putri sadar,
betapa lapar
perutnya! Dia
menatap nanar
kepulan asap di atas
semangkuk bakso.
“Mau beli bakso,
neng? Duduk saja di
dalam,” sapa si
tukang bakso.
“Mau, bang. Tapi saya
tidak punya uang,”
jawabnya tersipu
malu.
“Bagaimana kalau hari
ini abang traktir
kamu? Duduklah,
abang siapin mi
bakso yang super
enak.”
Putri pun segera
duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak
kuasa menahan air
matanya, “Lho,
kenapa menangis,
neng?” tanya si
abang.
“Saya jadi ingat ibu
saya, nang.
Sebenarnya… hari ini
ulang tahun saya.
Malah abang, yang
tidak saya kenal,
yang memberi saya
makan. Ibuku sendiri
tidak ingat hari ulang
tahunku apalagi
memberi makanan
kesukaanku. Saya
sedih dan kecewa,
bang.”
“Neng cantik, abang
yang baru sekali aja
memberi makanan
bisa bikin neng
terharu sampai
nangis. Lha, padahal
ibu dan bapak neng,
yang ngasih makan
tiap hari, dari neng
bayi sampai segede
ini, apa neng pernah
terharu begini?
Jangan ngeremehin
orangtua sendiri
neng, ntar nyesel
lho.”
Putri seketika
tersadar, “Kenapa
aku tidak pernah
berpikir seperti itu?”
Setelah
menghabiskan
makanan dan
berucap banyak
terima kasih, Putri
bergegas pergi.
Setiba di rumah,
ibunya menyambut
dengan pelukan
hangat, wajah cemas
sekaligus lega,
“Putri, dari mana
kamu seharian ini, ibu
tidak tahu harus
mencari kamu ke
mana. Putri, selamat
ulang tahun ya. Ibu
telah membuat
semua makanan
kesukaan Putri. Putri
pasti lapar kan? Ayo
nikmati semua itu.”
“Ibu, maafkan Putri,
Bu,” Putri pun
menangis dan
menyesal di pelukan
ibunya. Dan yang
membuat Putri
semakin menyesal,
ternyata di dalam
rumah hadir pula
sahabat-sahabat
baik dan paman serta
bibinya. Ternyata ibu
Putri membuatkan
pesta kejutan untuk
putri kesayangannya.
===============
===============
===============
========
Saat kita mendapat
pertolongan atau
menerima pemberian
sekecil apapun dari
orang lain, sering kali
kita begitu senang
dan selalu berterima
kasih. Sayangnya,
kadang kasih dan
kepedulian tanpa
syarat yang diberikan
oleh orangtua dan
saudara tidak
tampak di mata kita.
Seolah menjadi
kewajiban orangtua
untuk selalu berada di
posisi siap
membantu, kapan
pun.
Bahkan, jika hal itu
tidak terpenuhi,
segera kita
memvonis, yang
tidak sayanglah, yang
tidak mengerti anak
sendirilah, atau
dilanda perasaan
sedih, marah, dan
kecewa yang hanya
merugikan diri sendiri.
Maka untuk itu, kita
butuh untuk
belajar dan belajar
mengendalikan
diri, agar kita
mampu hidup
secara harmonis
dengan keluarga,
orangtua, saudara,
dan dengan
masyarakat
lainnya .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s