Just another WordPress.com site

Tempayan yang retak

Seorang tukang air India
memiliki dua tempayan
besar,
Masing-masing
bergantung
pada kedua ujung sebuah
pikulan
Yang dibawa menyilang
pada
bahunya.
Satu dari tempayan itu
retak,
Sedangkan tempayan
satunya lagi tidak.
Jika tempayan yang tidak
retak itu selalu
membawa air
penuh setelah perjalanan
panjang dari mata air ke
rumah majikannya.
Tempayan
itu hanya dapat air
setengah
penuh,
Selama dua tahun, hal ini
terjadi setiap hari.
Si tukang air hanya dapat
membawa
Satu setengah tempayan
air
ke rumah majikannya.
Tentu saja si tempayan
yang
tidak retak
Merasa bangga akan
prestasinya,
Karena dapat
menunaikan
tugasnya dengan
sempurna.
Namun si tempayan
retak
yang malang itu
Merasa malu sekali akan
ketidaksempurnaannya
Dan merasa sedih sebab
ia
hanya dapat
Memberikan setengah
dari
porsi yang seharusnya
Dapat diberikannnya.
Setelah dua tahun
tertekan
oleh kegagalan pahit ini,
Tempayan retak itu
berkata
kepada si tukang air,
“Saya sungguh malu pada
diri saya sendiri,
dan saya ingin mohon
maaf
kepadamu.”
“Kenapa?” tanya si
tukang
air,
“Kenapa kamu merasa
malu?”
“Saya hanya mampu,
selama
dua tahun ini,
membawa setengah
porsi air
dari yang seharusnya
dapat saya bawa karena
adanya retakan
pada sisi saya telah
membuat
air yang saya bawa bocor
sepanjang jalan menuju
rumah majikan kita.
Karena cacadku itu, saya
telah membuatmu rugi.”
Kata tempayan itu.
Si tukang air merasa
kasihan
pada si tempayan retak,
Dan dalam belas
kasihannya,
ia berkata,
“Jika kita kembali ke
rumah
majikan besok,
aku ingin kamu
memperhatikan bunga-
bunga
indah
di sepanjang jalan.”
Benar, ketika mereka
naik ke
bukit,
Si tempayan retak
memperhatikan
Dan baru menyadari
bahwa
ada bunga-bunga indah
Di sepanjang sisi jalan,
Dan itu membuatnya
sedikit
terhibur.
Namun pada akhir
perjalanannya, Ia kembali
sedih karena separuh air
yang dibawanya telah
bocor,
dan kembali tempayan
retak
itu meminta maaf pada
si
tukang air atas
kegagalannya.
Si tukang air berkata
kepada
tempayan itu,
“Apakah kamu
memperhatikan adanya
bunga-bunga
di sepanjang jalan di
sisimu
tapi tidak ada bunga di
sepanjang jalan
di sisi tempayan yang lain
yang tidak retak itu
Itu karena aku selalu
menyadari akan cacadmu.
Dan aku
memanfaatkannya.
Aku telah menanam
benih-
benih bunga di sepanjang
jalan di sisimu,
Dan setiap hari jika kita
berjalan pulang dari mata
air,
Kamu mengairi benih-
benih
itu.
Selama dua tahun ini aku
telah dapat memetik
bunga-
bunga
Indah itu untuk menghias
meja majikan kita.
Tanpa kamu
sebagaimana
kamu ada, majikan kita
tak
akan dapat menghias
rumahnya seindah
sekarang.

Setiap dari kita memiliki
Cacad dan kekurangan
kita
sendiri.
Kita semua adalah
tempayan
retak.
Namun jika kita mau,
Tuhan akan
menggunakan
kekurangan kita
Untuk menghias-Nya.
Di mata Tuhan yang
bijaksana,
Tak ada yang terbuang
percuma.
Jangan takut akan
kekuranganmu.
Kenalilah kelemahanmu
dan
kamu pun
Dapat menjadi sarana
keindahan Tuhan.
Ketahuilah, didalam
kelemahan kita, kita
menemukan kekuatan
kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s