Just another WordPress.com site

Ketika sebuah ‘rasa’ menyapa

Waktu masih SMA
sampai sekarang,
sobat-sobat saya
menjuluki saya
sebagai Pangeran
Cinta, Dokter Cinta,
Dewa Cinta, Sang
Pujangga, Konsultan
Cinta, dsb. Saya yang
tidak memiliki
kualifikasi dan tidak
‘official’ menjadi
rujukan sobat-sobat
dalam soal cinta dan
rumah tangga. Saya
dianggap banyak
berpengalaman
tentang cinta,
padahal saya sendiri
merasa biasa-biasa
saja, karena solusi
yang saya berikan
kepada mereka
adalah solusi Islam –
yang mana bila kita
memakai Islam
sebagai solusi dalam
setiap permasalahan
hidup kita, maka
berbahagialah karena
ridha Allah menyertai
kita meski solusi
yang Islam tawarkan
awalnya terasa pahit
di mata kita. Tapi
yakinlah bahwa solusi
Islam akan terasa
manis dikemudian
hari, bagi kita yang
berakal-. Saya
senyum-senyum saja
saat mendengar
anggapan itu, padahal
jikalau mereka tahu
dan menyadari
bahwa ternyata yang
hebat itu bukan saya
tetapi ISLAM itu
sendiri. Subhanallah…
Allahu Akbar…
Suatu saat, apa yang
menimpa sobat-
sobat saya juga
menimpa diri saya,
yakni bertemu
dengan sesosok
wanita shalihah yang
menurut pandangan
saya seTegar dan
seDermawan
Khadijah ra
(insyaAllah). Berbagai
masalah dan persepsi
dalam pikiran saya,
saya muntahkan
pada Hati Nurani saya
sendiri. Bagaimana
memulai ta’arufan,
pantaskah saya
bersanding
dengannya,
bagaimana bila nanti
ditolak, bagaimana
caranya
mengkhitbah,
bagaimana
membangun
komitmen,
bagaimana
menyampaikan ke
orang tua tentang
rencana saya untuk
nikah, dan
bagaimana-
bagaimana yang
lainnya. Yah benar,
sebuah RASA sedang
menyapa saya.
Alhamdulillah… Saya
bersyukur atas
karunia Allah yang
satu ini. Singkat kata,
singkat cerita. Hati
Nurani dengan
bijaksana
memperlakukan saya
sebagaimana saya
memperlakukan
siapa-siapa yang
mempunyai masalah
yang serupa kepada
saya. Ibaratnya, saya
kena batunya atau
dengan kata lain
‘senjata makan
tuan’.
“Wanita yang akan
kamu pilih itu milik
siapa? Milik Allah,
‘kan!”. Hati nurani
bertanya dan saya
mengangguk.
“Makanya, minta saja
pada Allah. Tanyalah
pada Allah, apakah
dia yang terbaik buat
kamu? Mengadulah
pada Allah, apakah
dia pasangan di dunia
dan di akhiratmu?
Memohonlah pada
Allah, apakah dia
akan mendukung
dakwahmu
memperjuangkan
Syariah dan Khilafah?
Lalu, serahkanlah
semuanya pada
Allah, karena Allah
Maha Lebih Tahu apa
yang terbaik buatmu
daripada dirimu
sendiri.” Saya hanya
bisa mengangguk dan
diam sejuta bahasa
mendengar petuah
Hati Nurani. Lalu Hati
Nurani menuntun
saya berdoa…
Yaa Allah, Yaa Ilahi…
Engkaulah Pemilik
wanita yang akan
daku pilih,
Engkaulah
Penggenggam
hatinya,
Engkaulah yang
mampu membuka
pintu hatinya.
Yaa Allah, daku
hendak menjadikan
dia teman dakwahku.
Seperti halnya
Khadijah terhadap
rasul-Mu.
Daku ingin
menikahinya, tapi
daku tak tahu siapa
dia.
Yaa Allah, Yaa Rabbi…
Seandainya
permohonanku ini
terbaik buatku di sisi-
Mu,
Tunjukkanlah
caranya, cara
bagaimana daku
boleh mengenali
dirinya.
Engkau sediakanlah
jalan-jalan ke arah
untuk mengenali
dirinya.
Tetapi jikalau
permohonan ini bukan
yang terbaik buatku
di sisi-Mu,
Maka hilangkanlah
rasa ingin hidup
bersama dengannya.
Kau lenyapkanlah
bayangan dirinya
dalam pikiranku.
Dan gantikanlah
dengan wanita yang
lain,
yang terbaik buatku
di mata-Mu.
Amiin… Yaa rabbal
‘alamiin…
Hati Nurani berkata
lagi, “Jikalau Allah
mengabulkan doamu,
pasti Allah akan
tunjukkan jalan-jalan
untuk mengenali
wanita tersebut. Ada
saja jalan yang Allah
wujudkan agar kamu
berdua dapat
berkenalan. Dan
jikalau memang
jodoh, pasti
urusannya diberi
kemudahan dan
kelancaran, meski
harus menghadapi
tantangan karena hal
itu adalah sebuah
proses
pendewasaan. Yang
jelas hati harus yakin
bahwa Allah akan
menolong jikalau kita
memohon kepada-
Nya. Dan jikalau yang
didapat tidak sesuai
dengan yang kita
harapkan, jangan
putus asa. Bukankah
semua itu hasil dari
doa kita yang
mengatakan bahwa
kalau dia yang
terbaik, kabulkan doa
kita, kalau bukan
yang terbaik, jangan
dikabulkan. Innalillahi
wa inna lillahi
raaji’un.”
Sobat Mutiara Hati
yang dimuliakan
Allah, semua
masalah dan
kehendak kita datang
dari Allah. Allah
memberi pilihan
kepada kita untuk
memilih. Allah tidak
zalim dengan
membuat pilihan
untuk kita. Kita yang
memilih sendiri tetapi
pilihan yang dipilih
adalah masih dalam
ruang lingkup pilihan-
pilihan yang diberikan
oleh Allah kepada
kita. Dan setiap
pilihan ini ada
Qadarnya. Qadarnya
juga mempunyai
Qadha-Qadha lain di
dalamnya.
Apabila kita hendak
memilih, kita
bertanya pada Allah
pilihan yang terbaik di
sisi Allah. Setelah kita
memilih berdasarkan
gerak hati dan juga
berupa bisyarah, atau
bahkan juga mungkin
ada bahasa alam,
kita memohon
dengan sepenuh hati
agar Allah
memudahkan Qadar-
Qadar ke atas Qadha
yang kita telah pilih
tadi. Semua pilihan
dari Allah, dan kita
serahkan kembali
pada Allah untuk
memberikan
petunjuk agung-Nya
terhadap pilihan yang
terbaik karena kita
tidak tahu yang
mana yang paling
terbaik di sisi Allah
buat kita.
Apa-apa yang terjadi
setelah kita memilih,
percayalah itulah
yang terbaik di sisi
Allah buat kita
karena kita telah
berdoa dan
bermunajat
memohon petunjuk
dari-Nya. Inilah
maksud dari firman
Allah bahwa setiap
permohonan pasti
dikabulkan oleh Allah.
Maka meskipun
sesuatu itu buruk
dari pandangan kita,
insyaAllah pasti
banyak kebaikan di
ujungnya. Inilah
hebatnya Islam yang
mengatur hidup dan
kehidupan kita
dengan begitu
sempurnanya, lalu
nikmat Tuhan
manakah yang masih
berani kita dustakan?
Give thank’s to Allah,
Allahu Akbar…

sumber:nowilkirin.blogspot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s