Just another WordPress.com site

Sampingan

[MALAIKAT KECIL BUNDA]

Empat tahun yang lalu, kecelakaan
telah merenggut orang yang kukasihi,
sering aku bertanya-tanya, bagaimana
keadaan istriku sekarang di alam
surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti
sangat sedih karena sudah
meninggalkan sorang suami yang tidak
mampu mengurus rumah dan seorang
anak yang masih begitu kecil.
Begitulah yang kurasakan,karena
selama ini aku merasa bahwa aku telah
gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan
jasmani dan rohani anakku, dan gagal
untuk menjadi ayah dan ibu untuk
anakku.
Suatu hari, ada urusan penting di
tempat kerja, aku harus segera
berangkat ke kantor, anakku masih
tertidur. Ohhh aku harus menyediakan
makan untuknya. Karena masih ada
sisa sedikit nasi, jadi aku menggoreng
telur untuk dia makan. Setelah
memberitahu anakku yang masih
mengantuk, kemudian aku bergegas
berangkat ke tempat kerja. Peran
ganda yang kujalani, membuat
energiku benar-benar terkuras. Suatu
hari ketika aku pulang kerja aku
merasa sangat lelah, setelah bekerja
sepanjang hari. Hanya sekilas aku
memeluk dan mencium anakku, aku
langsung masuk ke kamar tidur, dan
melewatkan makan malam.
Namun, ketika aku merebahkan badan
ke tempat tidur dengan maksud untuk
tidur sejenak menghilangkan
kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada
sesuatu yang pecah dan tumpah seperti
cairan hangat! Aku membuka selimut
dan….. di sanalah sumber ‘masalah’nya
… sebuah mangkuk yang pecah dengan
mie instan yang berantakan di seprai
dan selimut!Oh…Tuhan! Aku begitu
marah, aku mengambil gantungan
pakaian dan langsung menghujani
anakku yang sedang gembira bermain
dengan mainannya, dengan pukulan-
pukulan! Dia hanya menangis,
sedikitpun tidak meminta belas
kasihan, dia hanya memberi penjelasan
singkat:“Ayah, tadi aku merasa lapar
dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah
belum pulang, jadi aku ingin memasak
mie instan. Aku ingat, ayah pernah
mengatakan untuk tidak menyentuh
atau menggunakan kompor gas tanpa
ada orang dewasa di sekitar, maka aku
menyalakan mesin air minum ini dan
menggunakan air panas untuk
memasak mie. Satu untuk ayah dan
yang satu lagi untuk saya . Karena aku
takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi
aku menyimpannya di bawah selimut
supaya tetap hangat sampai ayah
pulang. Tapi aku lupa untuk
mengingatkan ayah karena aku sedang
bermain dengan mainanku, aku minta
maaf,ayah … “
Seketika, air mata mulai mengalir di
pipiku, tetapi, aku tidak ingin anakku
melihat ayahnya menangis maka aku
berlari ke kamar mandi dan menangis
dengan menyalakan shower di kamar
mandi untuk menutupi suara tangisku.
Setelah beberapa lama, aku hampiri
anakku, kupeluknya dengan erat dan
memberikan obat kepadanya atas luka
bekas pukulan dipantatnya, lalu aku
membujuknya untuk tidur. Kemudian
aku membersihkan kotoran tumpahan
mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan
lewat tengah malam, aku melewati
kamar anakku, dan melihat anakku
masih menangis, bukan karena rasa
sakit di pantatnya, tapi karena dia
sedang melihat foto ibu yang
dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu,
aku mencoba, dalam periode ini, untuk
memusatkan perhatian dengan
memberinya kasih sayang seorang
ayah dan juga kasih sayang seorang
ibu, serta memperhatikan semua
kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku
sudah berumur tujuh tahun, dan akan
lulus dari Taman Kanak-kanak.
Untungnya, insiden yang terjadi tidak
meninggalkan kenangan buruk di masa
kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa
dengan bahagia.
Namun, belum lama, aku sudah
memukul anakku lagi, saya benar-
benar menyesal. Guru Taman Kanak-
kanaknya memanggilku dan
memberitahukan bahwa anak saya
absen dari sekolah. Aku pulang
kerumah lebih awal dari kantor, aku
berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia
tidak ada dirumah, aku pergi mencari di
sekitar rumah kami, memangil-manggil
namanya dan akhirnya menemukan
dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang
bermain komputer game dengan
gembira. Aku marah, membawanya
pulang dan menghujaninya dengan
pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu
mengatakan,“Aku minta maaf,
ayah“.Selang beberapa lama aku
selidiki, ternyata ia absen dari acara
“pertunjukan bakat” yang diadakan
oleh sekolah, karena yg diundang
adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah
alasan ketidakhadirannya karena ia
tidak punya ibu.
Beberapa hari setelah penghukuman
dengan pukulan rotan, anakku pulang
ke rumah memberitahuku, bahwa
disekolahnya mulai diajarkan cara
membaca dan menulis. Sejak saat itu,
anakku lebih banyak mengurung diri di
kamarnya untuk berlatih menulis, aku
yakin, jika istriku masih ada dan
melihatnya ia akan merasa bangga,
tentu saja dia membuat saya bangga
juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat,
satu tahun telah lewat. Tapi astaga,
anakku membuat masalah lagi. Ketika
aku sedang menyelasaikan pekerjaan
di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba
kantor pos menelpon. Karena
pengiriman surat sedang mengalami
puncaknya, tukang pos juga sedang
sibuk-sibuknya, suasana hati mereka
pun jadi kurang bagus. Mereka
menelponku dengan marah-marah,
untuk memberitahu bahwa anakku
telah mengirim beberapa surat tanpa
alamat. Walaupun aku sudah berjanji
untuk tidak pernah memukul anakku
lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri
untuk tidak memukulnya lagi, karena
aku merasa bahwa anak ini sudah
benar-benar keterlaluan. Tapi sekali
lagi, seperti sebelumnya, dia meminta
maaf :“Maaf, ayah”. Tidak ada
tambahan satu kata pun untuk
menjelaskan alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos
untuk mengambil surat-surat tanpa
alamat tersebut lalu pulang. Sesampai
di rumah, dengan marah aku
mendorong anakku ke sudut
mempertanyakan kepadanya,
perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang
ada dikepalanya? Jawabannya, di
tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-
surat itu untuk ibu…..”. Tiba-tiba
mataku berkaca-kaca. …. tapi aku
mencoba mengendalikan emosi dan
terus bertanya kepadanya: “Tapi
kenapa kamu memposkan begitu
banyak surat-surat, pada waktu yg
sama?” Jawaban anakku itu : “Aku telah
menulis surat buat ibu untuk waktu
yang lama, tapi setiap kali aku mau
menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi
bagiku, sehingga aku tidak dapat
memposkan surat-suratku. Tapi baru-
baru ini, ketika aku kembali ke kotak
pos, aku bisa mencapai kotak itu dan
aku mengirimkannya sekaligus”.
Setelah mendengar penjelasannya ini,
aku kehilangan kata-kata, aku bingung,
tidak tahu apa yang harus aku lakukan,
dan apa yang harus aku katakan. Aku
bilang pada anakku, “Nak, ibu sudah
berada di surga, jadi untuk selanjutnya,
jika kamu hendak menuliskan sesuatu
untuk ibu, cukup dengan membakar
surat tersebut maka surat akan sampai
kepada ibumu. Setelah mendengar hal
ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera
setelah itu, ia bisa tidur dengan
nyenyak. Aku berjanji akan membakar
surat-surat atas namanya, jadi saya
membawa surat-surat tersebut ke luar,
tapi…. aku jadi penasaran untuk tidak
membuka surat tersebut sebelum
mereka berubah menjadi abu.Dan salah
satu dari isi surat-suratnya membuat
hati saya hancur yang isinya:‘ibu
sayang’, Aku sangat merindukanmu!
Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan
Bakat’ di sekolah, dan mengundang
semua ibu untuk hadir di pertunjukan
tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi aku
tidak ingin menghadirinya juga. Aku
tidak memberitahu ayah tentang hal ini
karena aku takut ayah akan mulai
menangis dan merindukanmu lagi. Saat
itu untuk menyembunyikan kesedihan,
aku duduk di depan komputer dan mulai
bermain game di salah satu toko. Ayah
keliling-keliling mencariku, setelah
menemukanku ayah marah, dan aku
hanya bisa diam, ayah memukul aku,
tetapi aku tidak menceritakan alasan
yang sebenarnya.
Ibu, setiap hari aku melihat ayah
merindukanmu, setiap kali dia teringat
padamu, ia begitu sedih dan sering
bersembunyi dan menangis di
kamarnya. Aku pikir kita berdua amat
sangat merindukanmu. Terlalu berat
untuk kita berdua. Tapi bu, aku mulai
melupakan wajahmu. Bisakah ibu
muncul dalam mimpiku sehingga aku
dapat melihat wajahmu dan ingat
kamu? Temanku bilang jika kau
tertidur dengan foto orang yang kamu
rindukan, maka kamu akan melihat
orang tersebut dalam mimpimu. Tapi
ibu, mengapa engkau tak pernah
muncul ?
Setelah membaca surat itu, tangisku
tidak bisa berhenti karena aku tidak
pernah bisa menggantikan kesenjangan
yang tak dapat digantikan semenjak
ditinggalkan oleh istriku
Note : Untuk para suami dan laki-laki,
yang telah dianugerahi seorang istri/
pasangan yang baik, yang penuh kasih
terhadap anak-anakmu selalu
berterima-kasihlah setiap hari pada
istrimu. Dia telah rela menghabiskan
sisa umurnya untuk menemani
hidupmu, membantumu,
mendukungmu, memanjakanmu dan
selalu setia menunggumu, menjaga dan
menyayangi dirimu dan anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan
cintailah dia sepanjang hidupmu dengan
segala kekurangan dan kelebihannya,
karena apabila engkau telah
kehilangan dia, tidak ada emas
permata, intan berlian yang bisa
menggantikannya
———
I LOVE U MY WIFE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s