Just another WordPress.com site

Sampingan

SENYUM RIANG ADIKU DIANA

Ada segores pedih saat ku ukir namamu dik…,
Perih. Seakan ribuan belati menusuk ke hati,
meninggalkan gumpalan sedih di lubang rasaku..
Penyesalan yang tak berujung, yang membuatku
merutuki diri ini yang begitu ego diri. Allah…,
Ampuni aku.. Adik, maafkan kakak….
Aku mengenalmu pertama kali ketika kami masih
berpakaian putih abu-abu, dan berlanjurt di
tingkat kuliah. Aku masih teringat sinar matamu
saat aku memasuki kelasmu, dan kamu
mengajak kami dan teman-temanmu
memanfaatkan waktu kalian di sela waktu luang
dalam sebuah majlis ilmu. Kajian jum’at, yang
rutin ku jalankan bersama teman-teman
akhwatku di rohis.
Sayangnya, sepertinya teman-temanmu tidak
begitu merespon, mereka lebih suka
menghabiskan waktunya dengan bergosip dan
hal-hal yang tidak bermanfaat, tapi kamu
berbeda. Kamu terlihat istimewa. Kamu datang,
dengan wajah penuh riang. Dik, sampai sekarang
aku masih ingat senyuman yang tak penah lepas
dari wajahmu.
Senyuman yang dapat menghilangkan segala
penat dan lelahku karena tugas-tugas yang
menumpuk, program kerja di rohis yang begitu
padat, rapat-rapat dan pertemuan yang begitu
melelahkan. Tapi kamu…, yah kamu tetap riang
dan seolah mengajarkan kami kakak-kakakmu
untuk tetap semangat dan menikmati dunia
dengan riang.
Kamu semakin dekat pada kami, kamu begitu
mudah menyerap segala pengetahuan yang kami
berikan kepadamu. Kamu cerdas dik. Mungkin
karena belajar dengan hati, kamu begitu mudah
menerima kebaikan. Kamu hanif dik, hatimu
begitu lembut dengan kebenaran… Allahu akbar,
aku malu dik saat menyadari betapa banyak
kesombongan di hati ini, tak seperti kau yang
sangat bersahaja.
Aku mulai menyadari, dirimu sangat berbeda
dengan teman-temanmu. Kamu begitu dekat
dengan kami, senior-seniormu, bahkan sangat
manja, berbeda dengan teman-temanmu yang
cukup segan kepada kami. Tapi aku suka sifatmu
dik, aku seolah memiliki adik baru. Kamu sangat
perhatian pada kami, terutama padaku. Itu yang
ku rasa dulu, setiap di sela jam istirahat, kamu
pasti selalu membawa coklat untukku, dan
berbisik padaku:
“Kak, jangan bilang sama kak iva yah, aku cuma
kasih kakak. He he he.” Katamu dengan wajah
penuh rahasia. Aku tertawa, menyambutnya juga
dengan wajah tak kalah licik. Ha ha ha ( mb.iva
mungkin kamu ingat itu…lucunya adik kita yang
satu ini.
Tapi ternyata aku salah, kau melakukan hal yang
sama pada mb.iva juga. Kami tertipu, tetapi kami
tetap senang. Begitulah caramu membuat kami
merasa begitu kamu cintai. Allah, begitu
banyaknya dia mengajari kami.Hari itu kamu
mendatangiku, dengan wajah penuh semangat
lebih dari biasanya. Kamu bertanya kepadaku:
“Kak, aku mau kayak kakak. Menutup aurat
dengan sempurna.” Allahu Akbar ! aku
menyambut dengan begitu bahagia. Aku
sampaikan pada uphi, Hilda dan ade, serta
akhwat-akhwat yang lainnya. Mereka merespon
dengan begitu bahagia. Kau memintaku
menemanimu membeli kain, tentu saja aku mau.
Subhanallah, bahagianya hatiku saat itu. Serasa
tiada hari terindah melebihi ketika aku pergi
bersamamu pada hari itu.
Beberapa hari kemudian kamu datang dengan
wajah cemas. Katamu, keluargamu tidak senang
dengan perubahanmu, bahkan mereka pernah
menyembunyikan jilbabmu. Kamu pun kini ragu
dengan pilihanmu. Aku mencoba meyakinkanmu
bahwa Allah lah sebaik-baik penolong. Tak ka
nada yang bisa menyakitimu dalam lindungan-
Nya. Kamu menangis.
Kemudian aku mengajakmu ke mushola. Kita
shalat dhuha, dan selesai shalat kamu berkata
mantap, “Aku mantap untuk memakainya kak.”
Subhanallah, ya Allah, Engkau penguasa hati
makhluk-Mu…
Keesokan harinya, kamu dengan jilbab lebarmu,
dengan wajah yang sangat berbahagia. Aku
memeluk dan menciummu dengan penuh
sayang. Aku mencubit pipi tembemmu yang
besemu merah, semua akhwat memelukmu
dengan bahagia, ahlan wa sahlan yaa ukhti,
semoga kamu terjaga dalam busana syar’i ini.
Kamu pun smakin dekat padaku, sangat perhatian
pada kami smua, tak pernah seingatku kamu tak
datang menjengukku setiap kali aku sakit. Kamu
selalu datang walau dalam kondisi sangat lelah..
Dik, kakak sangat bangga padamu.. Kamu
semakin aktif, semua amanah yang diberikan
mampu kamu kerjakan dengan penuh semangat.
Bahkan, rasanya tanpa kamu, kami sangat
kerepotan. Kami sangat sayang padamu dik.
Tak terasa 2 tahun kebersamaan kita…. Aku lulus,
dan harus meninggalkan kampus kita tercinta,
meninggalkan rohis MPM KARAMAH (Mahasiswa
Pencinta -Mushallah Kerukunan Remaja Mushallah
Aliyah) yang kami rintis dari awal dengan penuh
perjuangan, akhwat-akhwatku, adik-adik
mentorku, perjuangan kami. Aku harus
meninggalkan mereka semua.
Termasuk kamu dik. Kamu menangis, kamu
meminta kami agar tak meninggalkan kalian. Yah,
kami berjanji akan lebih sering mengunjungi. Tak
akan berhenti memperhatikanmu dan yang lain.
Tapi, ternyata….
Semua hanya janji, kami masuk dalam
lingkungan kampus, yang kesibukannya
menumpuk, terlebih aku mengambil fakultas
paling sibuk di antara semua fakultas yang ada…
Aku tak menepati janji, aku ingkar padamu dik.
Allah, ampuni aku…
Aku melupakanmu, aku mulai sibuk di lembaga
dakwah kampusku, yang juga meminta perhatian
yang sangat besar. Kuliah-kuliahku, lab-labku
yang membuatku tak punya waktu untuk yang
lain, termasuk padamu. Aku mulai
melupakanmu, tapi kamu sering sekali
menelponku.
Yah…telpon-telponmu dik.. .Allah, jika mengingat
ini, sungguh penyesalanku seakan tak ada
habisnya. Kamu begitu sering menelponku,
menceritakan semua keadaan di SMU kita, tentang
keluargamu yang semakin menentangmu,
tentang saudaramu yang sangat membencimu,
tentang tidak adanya orang yang mau
mendengarkan seluruh keluh kesahmu.
Bahkan terkadang, kamu meneleponku sampai
dua jam. Dan aku yang begitu egois, mulai bosan
dengan semua keluhanmu. Aku yang terkadang
begitu lelah dengan rutinitasku, yang hanya
mencuri waktu untuk istirahat, juga harus
terganggu dengan teleponmu. Ampuni hamba ya
Allah…, aku mulai menghindarimu, tak ku jawab
telepon-teleponmu, tapi kamu sekalipun tidak
marah. Ya Allah…
Suatu hari, kamu datang ke rumah dengan wajah
letih, tak ku temukan keceriaan itu lagi. Ada yang
aneh pada dirimu dik, aku sangat terkejut
melihatnya…
Wajahmu yang dulu penuh semangat dan selalu
dihiasi senyum,keceriaan, yang biasanya mampu
mengobarkan semangat orang-orang di
sekitarmu. Kini kamu begitu berbeda, wajahmu
begitu pucat, loyo, tanpa semangat hidup seperti
dulu.
Tubuhmu dik…, Allah… ada apa dengan dirimu
dik ? dulu kamu begitu gemuk menggemaskan,
dengan pipi tembem yang sangat lucu hingga
matamu yang sipit akan semakin kecil saat dirimu
tersenyum. Dulu kami (akhwat-akwhat) di rohis
sering menyebutmu “Roti donatku” dan kamu
akan membalasnya dengan wajah cemberut,
yang kemudian diikuti dengan merajuk… tapi kini,
kamu sangat kurus dik… sakit kah dirimu ? ini
memang pertemuan pertama kita setelah aku
lulus, selama ini kita hanya berkomunikasi melalu
telepon..
Dulu setiap kali kita berkumpul kamu akan
menceritakan semua pengalamanmu padaku,
bibirmu akan terus berceloteh tanpa henti,
dengan riang dan semangat… aku selalu menjadi
pendengar setiamu… tapi kini kamu hanya diam
membisu, tercenung tanpa berkata apa-apa….
Saat ku tanya kamu dari mana ? kamu hanya
menjawab dengan singkat bahwa kamu hanya
kebetulan lewat setelah pulang tarbiyah… lalu
selebihnya kamu hanya diam… Dik, tahukah kau,
betapa banyak yang ingin ku tanyakan
kepadamu? tapi aku tak ingin menambah
penatmu dengan pertanyaan-pertanyaanku. Jadi
ku biarkan saja kamu dalam diammu… hingga
akhirnya kamu tertidur… Aku menatap wajahmu
yang teduh dalam tidurmu… dik, sebenarnya apa
yang terjadi denganmu ?
Lalu kamu pun pamit, pergi tanpa sedikitpun
cerita sebagaimana lazimnya….
Aku kembali dalam duniaku, Kuliahku, labku,
amanah dakwahku… Dan.. Ya Rabb, aku kembali
melupakanmu dik, hingga kemudian aku
menerima sebuah telepon dari temanmu, “Kak,
Diana sakit, sudah 1 minggu dia tidak masuk
sekolah, kayaknya parah, kalau bisa kakak
sempatkan waktu untuk menjenguknya, dia
selalu menanyakan kakak dan akhwat-akhwat
yang lain.” aku tercenung di ujung telepon, tak
tahu harus berbuat apa..
Saat aku dan akhwat-akhwat lain tiba di
rumahmu, segera kami ke kamarmu, kamar
sempit yang pengap. Hatiku miris…, aku baru kali
ini ke rumahmu dik. Rabb, aku baru menyadari
betapa aku tidak memperhatikan saudaraku yang
memberiku parhatian luar biasa selama ini. Hatiku
perih melihat keadaanmu, tubuhmu begitu kurus
seperti seonggok tulang berselimut kulit, aku
bahkan tak mampu mengenalimu, tubuhku
bergetar, dadaku sesak menahan tangis, air
mataku jatuh tak mampu ku bendung..
Aku mendekatimu, kamu berusaha tersenyum
tapi yang ku lihat adalah ringisan menahan sakit.
Aku mencoba menahan perasaanku. Aku
memelukmu, mencium keningmu, akhwat yang
lain pun melakukan yang sama… kamu
tersenyum, mencoba menggapai tanganmu, ku
raih dan ku genggam tangan kurusmu… ku
mencoba menghiburmu dengan berbagai cerita
lucu, kamu tertawa, akwat-akhwat pun tertawa,
tapi aku menangis di sini. Di lubuk hati
terdalamku, meratapi keacuhanku…,Ketika ingin
pamit, kau ingin menahanku, maafkan kakak dik,
harusnya dulu aku menemanimu lebih lama
dalam kesakitanmu…
Aku mencoba bertanya pada ibumu kenapa
kamu tidak dibawa ke Rumah Sakit, dan kembali
ku temukan jawaban yang menghempaskan
perasaanku hingga hancur berkeping-keping, kau
menderita kanker kelenjar getah bening. Dan
karena ekonomi, tak punya biaya, kamu hanya di
bawa ke puskesmas. Kamu sudah pernah dibawa
ke RS tapi di keluarkan karena tak punya biaya…
Rabbana, apa gunaku selama ini, inikah ukhuwah
yang aku dengang-dengunkan selama ini? inikah
ikatan persaudaraan bagai satu tubuh yang selalu
aku ikrarkan dalam setiap majelis yang aku
bawakan? inikah kasih sayang yang aku serukan?
Tidak, aku harus melakukan sesuatu untukmu
dik… Saat itu segera aku bertanya krpada kakakku,
dan katanya aku harus mengambil surat
keterangan tidak mampu untukmu agar kamu
dapat segera di rawat secara gratis…Tunggu aku,
aku akan berusaha… ku bisikkan padamu bahwa
aku pasti kembali…
Aku kembali menjengukmu dik bersama hilda
dan uphi serta beberapa akhwat lain. Aku belum
berhasil menyelesaikan urusan surat miskin itu,
ternyata harus dengan berbagai macam
prosedur, tapi aku akan berusaha dik…Kali ini
kondisimu semakin memburuk. Aku
memelukmu dan dan kamu berkata “Ini kakak
yang cengeng itu yah?” kamu tersenyum.. Aku
terperanjat, Rabbana… Dik apa kamu sekarang
tidak bisa melihatku ? kamu tersenyum dan
berkata, “Kak, afwan kalo bicara suaranya di
kencengin yah, aku sudah tidak bisa melihat dan
mendengar lagi.”
Tubuhku bergetar, aku tahu wajahku pucat pasi
saat itu, aku pun tak bisa membendung
tumpahnya air mataku, aku menangis. Para
akhwat menarikku menjauh darimu. Dalam
pelukan akwat, aku tumpahkan segala rasaku,
sedihku, penyesalanku, dan ketakutanku… aku
takut kau tak mampu bertahan dik… sungguh aku
sangat takut kehilanganmu.
Tiba-tiba kamu tidak sadarkan diri, tak lama
kemudian kamu siuman lagi, begitu seterusnya…
Allah, kurasakan aroma sakaratul maut semakin
dekat di ruangan ini… ku raih tangan ringkihmu..
inilah tangan yang dulu sering memelukku dari
belakang, menutup mataku dan menyuruhku
menebak siapa dia, dan tentu saja aku tahu, tak
ada tangan yang segemuk punyamu dik, saat aku
menjawab, “Pasti si roti donat” kamu tertawa…
tapi kini tangan itu tak mampu bergerak lagi… Aku
usap air mata di pipimu dik, kamu menangis,
apakah kamu merindukanku, merindukan kami
saudaramu, yang telah melupakanmu ? sudihkah
kau memaafkan kami dik ?
Aku mendekatkan bibirku ke telingamu, aku tak
tahu apakah saat itu kau sadar atau tidak. Aku
bisikkan kalimatullah. Aku menuntunmu
menyebut nama-Nya “Laa Ilaaha illallaah…laa
Ilaaha illallah…” bibirmu bergerak dan aku
mendengarmu berkata “Allah…Allah..” Rabbana
inikah sakaratul maut… sesakit inikah…??? Ya
Rabbal izzati… Allahummagfirlahu,
Allahummarhamhu… Ampunilah dia, Rahmatilah
dia…Aku baru selesai shalat subuh, yang
kemudian aku lanjutkan dengan Al-Ma’tsurat
dzikir pagi. Hari ini aku berencana mengambil
surat keterangan miskin untukmu, yang
dijanjikan selesai hari ini, aku sangat
bersemangat.
Kamu akan segera di rawat dik. Saat baru saja
aku hendak mandi, telepon berbunyi, ternyata
dari ukhti Uni, mungkin dia mengajak
menjengukmu lagi, tentu saja aku mau, tapi aku
salah, berita yang aku terima sungguh sangat
membuatku terguncang.. “Ukhti, adik kita Diana…
Innalillahi wa innailaihi Rojiun”
Aku tak mau berburuk sangka ” Uni, kamu
ngomong apa sih ? ada apa ? ngomongnya
jangan nangis gitu dong…?” kataku mencoba
menenangkan diri .
“Diana ukh, dia sudah nggak ada, dia meninggal
tadi malam jam 01.00, kita doakan yah.. nanti kita
sama-sama melayat ke rumahnya” Rabbana…
aku terdiam, tak mampu berkata-kata, serasa ada
benjolan besar di tenggorokanku yang siap
meledak, aku terdiam, tak ku hiraukan uni yang
terus memanggilku dan terus menyuruhku
bersabar.. aku terduduk.. menangis.. aku
tumpahkan segala kesedihanku, penyesalanku,
keacuhanku, ketakpedulianku, keegoisanku…
Wajahmu terus berkelabat dalam benakku,
senyummu, tawamu, manjamu, semangatmu…
aku terus menangis…
Baru saja jenazahmu di bawa dari rumahmu.
Ibumu sejak tadi tak sadarkan diri. Kakakmu yang
kamu bilang membencimu ternyata sangat
mencintaimu, dia yang merawatmu selama
kamu sakit. Dik, begitu banyak orang yang
datang melayatmu, menghantar jenazahmu,
mensholatimu.. .aku hanya bisa diam menatap
iringan membawamu ke tempat pembaringanmu
meninggalkan kami…
Dik, kakak tak mampu menemanimu lagi seperti
dulu, tak akan ada lagi telepon-teleponmu dan
smsmu yang kini dan hingga kini ku rindukan
dan selalu ku nanti tapi aku tahu hanya akan
berbalas kesedihan. Tak ada lagi coklat-coklat
kejutan rasa cintamu pada kami… Tak ada lagi
cerita-ceritamu tentang masalah-masalahmu
yang kini dan hingga kini selalu ku nantikan dan
ku tahu hanya berbalas kecewa.
Dik, maafkan kakak, Semoga kau tenang disana,
semoga kau dapat menahan himpitan kubur
yang kita semua akan merasakannya. Rabbana…
Lapangkanlah kuburnya, terangilah dengan
cahaya-Mu, jauhkanlah dia dari adzab kubur…
Bukakanlah pintu jannah-Mu, sungguh dia adalah
mujahidah-Mu, dia adalah tentara yang
memperjuangkan agama-Mu..
Ku tahu saat ini begitu banyak dari kami
menangisi kepergianmu mujahidah, namun aku
pun yakin, ribuan penduduk langit bersorak
menyambut kedatanganmu dan ribuan malaikat
menaungimu dalam hamparan sayapnya…
dalam kedamaian di sisi Rabbmu… Pergilah
adikku… kakak ridho..
“Kak, apa aku juga bisa disebut mujahidah ? aku
kan tidak berperang” …tertawa…
“Tentu saja dik, setiap orang yang
memperjuangkan agama Allah dan mati dalam
keyakinan pada-Nya adalah seorang mujahid-
mujahidah.” …
“Kak, aku mau berjilbab lebar seperti kakak,
pantas nggak yah? aku kan gendut…?” …katamu
tersenyum malu…
“Kau akan sangat cantik dengan busana syar’i dik,
masih adakah yang lebih penting dari kecantikan
di mata Allah…?”
….Kau tertawa…
“Aku mauuuuu cantiiik di mata Allah…” …Tertawa
riang….
*** Untuk adikku Diana tenanglah disana, dalam
perlindunganNya, tak akan ada yang mampu
menyakitimu dik…” ****
Barakallahufikum ….
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati
kita yang telah lama terkunci …
~ o ~
Salam santun dan keep istiqomah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s