Just another WordPress.com site

Sampingan

WAKTUNYA ANAK MUDA BERLABEL ‘ENTERPRNEUR’

Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia
disebut-sebut memiliki keuntungan dari sisi
demografi. Kondisi demografi yang dimaksud
adalah jumlah tenaga kerja usia produktif yang
besar yang diyakini sebagai salah satu sumber
potensial mendongkrak pertumbuhan dan
aktivitas ekonomi dalam negeri.
Tidak heran jika belakangan, seiring dengan
membaiknya stabilitas perekonomian nasional,
muncul anak-anak muda yang menjadi inspirasi
generasinya. Mereka muncul karena keberanian,
kejelian, ketekunan, dan kisah keberhasilan
membangun bisnisnya.
Dunia bisnis yang digambarkan dengan orang
‘berdasi’ kini tidak lagi didominasi kalangan usia
tua. Justru kini semakin banyak anak muda
‘berdasi’ yang sukses berbisnis. Pemerintah juga
melihat potensi ini sebagai bagian dari
perkembangan perekonomian nasional. Anak
muda pun mulai didorong terjun dan menggeluti
dunia bisnis, apapun bentuknya. Tentunya sesuai
dengan ide, kreativitas, dan kemampuan masing-
masing.
Salah satu tokoh yang paling keras bersuara dan
mendorong peran anak muda dalam dunia bisnis
adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
Dahlan Iskan. Dia sangat percaya akan
kemampuan dan kapasitas generasi muda untuk
mengisi lini bisnis dan ekonomi dalam negeri.
Di beberapa kesempatan menjadi pembicara dan
motivator, Dahlan selalu bicara mengenai peran
generasi muda sebagai salah satu mesin
penggerak ekonomi nasional. Anak muda pun
diminta tidak hanya bergantung pada lapangan
usaha yang ada, tapi berani membuat lapangan
pekerjaan baru.
Caranya dengan menjadi wirausaha atau seorang
entrepreneur. Apalagi, jumlah wirausaha di
Indonesia terbilang masih rendah, baru 1,56
persen. Masih jauh di bawah negara tetangga
semisal Malaysia, Thailand dan Singapura yang
sudah di atas 4 persen. Jika memiliki mimpi
menjadi negara maju, jumlah wirausaha di
Indonesia minimal 2 persen dari total jumlah
penduduk.
Ada satu alasan kenapa Dahlan mempercayai
kemampuan anak muda membangun bisnis.
“Karena anak muda itu tahan bantingan, anak
muda itu bisa tidak tidur dua hari dua malam
mengejar ambisi,” ungkap Dahlan beberapa
waktu lalu.
Sebagai seorang entrepreneur, Dahlan
mendorong anak muda untuk bisa menjadi
seorang pengusaha yang tangguh, tahan banting
dan berani menghadapi risiko bangkrut dalam
menjalankan bisnisnya.
Bisnis harus dirintis sejak masih berusia muda.
“Kenapa harus dimulai muda, supaya ketika
bangkrut usaha kecil dan sakitnya itu tidak
menyakitkan. Masih dari tempat yang agak
rendah,” katanya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Menko
Perekonomian Hatta Rajasa. Dia berharap lahir
mahasiswa dan generasi muda sebagai
pengusaha-pengusaha yang kreatif. Harapannya,
dengan mulai menjajaki dunia usaha, generasi
mudah tidak terlalu tergantung pada orang lain.
“Sebagai generasi muda harus menciptakan
peluang, dan juga harus mampu merubah
budaya dari mencari kerja menjadi menciptakan
lapangan kerja,” kata Hatta.
Pemerintah percaya, modal menjadi negara maju
tidak hanya dari sisi sumber daya alam (SDA)
saja, tapi juga sumber daya manusia (SDM).
Pertanyaannya, apa peran pemerintah untuk
mendorong munculnya pengusaha-pengusaha
muda?
Menteri Keuangan Agus Martowardojo pernah
mengatakan bahwa peran pemerintah terletak
dari sisi alokasi anggaran untuk pendidikan yang
besarannya sekitar 20 persen dari total APBN. “Ini
seharusnya menjadi modal untuk mendidik
seorang wirausaha,” kata Agus Marto.
Lalu, bagaimana pandangan kalangan pengusaha
mengenai keberadaan entrepreneur muda di
Indonesia? Sosok taipan sukses di bidang
properti, Ciputra, sudah tidak asing lagi di dunia
bisnis Tanah Air. Sebagai pengusaha, dia sukses
membangun berbagai macam bisnisnya. Selain
mengurus usahanya, Ciputra kini banyak
menghabiskan waktu menjadi pembicara di
kalangan pebisnis dalam negeri.
Ciputra pun mengaku memiliki impian
menjadikan Indonesia sebagai negara
entrepreneur (pengusaha). Dalam kacamatanya,
sekitar 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia
memiliki bakat menjadi pengusaha. Namun
hanya segelintir saja yang serius dan
berkomitmen menjadi seorang pengusaha
hingga menjadi sukses.
“Indonesia ada 30 persen penduduknya punya
bakat, keinginan, dan kepercayaan diri. Yang
sudah ada bahan bakunya, kita tinggal kasih
apinya dia akan berkembang luar biasa. 30 persen
itu, 70 juta lebih, sekarang entrepreneur
Indonesia baru 1,56 persen,” jelasnya.
Tapi, untuk menjadi pengusaha tidak bisa diraih
dalam waktu singkat. Potensi dan kemampuan
yang ada, perlu diasah sejak usia dini. Bimbingan
dan pelatihan yang berkelanjutan bagi calon
entrepreneur muda berbakat, juga perlu
dilakukan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah inovasi.
Dengan kemampuan berinovasi, pengusaha akan
mampu bertahan di tengah iklim persaingan yang
semakin ketat. Faktor mental tidak boleh
dilupakan. Seorang pengusaha harus memiliki
mental yang tangguh dan minat yang tinggi
terhadap bidang yang ditekuninya. Dari itu
semua, kini saatnya yang muda berlabel
pengusaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s