Just another WordPress.com site

Sampingan

JIMAT PENCARI JODOH :D

Mendengar Paijo sukses move on karena
mendapatkan ajian sakti dari Kyai Bogang
(baca: Kyai Bogang, Si Dukun Move On),
Kardiman yang merupakan teman kos Paimin dan
Paijo menjadi tertarik untuk menemui Kyai
Bogang. Rupanya dia sedang punya masalah
yang membutuhkan bantuan Kyai Bogang.
“Oke Kang Imin, saya dikasih alamatnya Kyai
Bogang ya. Penting banget nih,” pinta Kardiman
kepada Paimin.
“Masalah opo toh Mas Man?” tanya Paimin dengan
ekspresi penasaran kepada Kardiman.
“Hahaha…. ra-ha-si-a….,” jawab Kardiman sambil
tersenyum lebar.
“Yo wes kalau ghak mau ngasih tahu. Alamatnya
Kyai Bogang itu ada di daerah Jembatan Merah
sana. Mas Man bawa saja kartu namanya nih,”
ujar Paimin singkat.
—oo—
Dari kartu nama yang diberikan Paimin, Kardiman
akhirnya mencoba menghubungi Kyai Bogang
sesuai dengan telpon yang tertera di kartu nama.
“Hallo Assalamualaikum,” kata Kardiman saat
mendengar panggilannya diterima.
“Waalaikumsalam, dengan Amin ada yang bisa
dibantu?” kata seorang pria yang tampaknya
masih muda dari seberang telpon.
“Saya Kardiman, mau membuat janji untuk
bertemu Kyai Bogang nih Mas,” kata Kardiman.
“Sebentar saya coba cek dulu nomer antriannya,”
kata si pria tersebut kembali.
Akhirnya Kardiman berhasil melakukan reservasi
untuk bisa bertemu Kyai Bogang. Dalam proses
reservasi tersebut, Kardiman diminta untuk
menjawab beberapa pertanyaan terkait identitas
pribadi dan keperluannya.
—oo—
Tiga hari berikutnya, Kardiman seorang diri
meluncur ke kediaman Kyai Bogang. Dia cukup
malu untuk mengajak teman satu kosnya. Takut
rahasianya menghadap Kyai Bogang terungkap ke
publik. Bisa-bisa dia akan menjadi bulan-bulanan
di tempat kosnya.
“Assalamualaikum,” teriak Kardiman dari luar
pagar.
“Waalaikumsalam,” jawab seorang pemuda yang
berlari ke halaman untuk membuka pintu
gerbang.
Pemuda tersebut kemudian membawa Kardiman
memasuki pintu samping yang tembus ke
halaman samping rumah. Sebuah bangunan
musholla tepat di samping rumah utama.
Saat berada di depan musholla, Kardiman melihat
seorang pria tua dengan janggut panjang,
bersarung, berkopiah putih dengan kaos oblong
yang warnanya tidak lagi bisa dibilang putih. Pria
tua yang dikenal sebagai Kyai Bogang ini sedang
menata beberapa buku di rak yang ada di
samping pintu masuk.
“Assalamualaikum Mbah….,” sapa Kardiman
sesaat berdiri di depan pintu.
“Waalaikumsalam… Silahkan masuk Mas
Kardiman,” jawab Kyai Bogang.
Seperti halnya Paijo pada cerita sebelumnya yang
terkejut juga karena Kyai Bogang bisa
menyebutkan namanya, Kardiman juga
mengalami hal yang sama. Dia lupa kalau pada
saat reservasi 3 hari yang lalu, asisten Kyai
Bogang sudah mencatat data pribadi dan
keperluannya.
“Saya sangat paham kalau Mas Kardiman sedang
galau karena sampai saat ini belum juga belum
ketemu jodohnya,” ujar Kyai Bogang membuka
pembicaraan.
“Loh bagaimana Mbah tahu keperluan dan
masalah saya? Kan saya belum cerita,” tanya
Kardiman penasaran.
“Hehehe…. Lah Mas Kardiman kemarin kan sudah
ngasih tahu asisten saya apa keperluannya,”
jawab Kyai Bogang sambil menunjukkan tanpilan
data yang ada di tablet-pcnya.
“Busyet nih si-mbah… canggih juga bawaanya,”
pikir Kardiman dalam hati.
“Begini Mbah, saya ingin Mbah memberi saya
ajian atau jibat pengasihan agar saya disukai oleh
wanita. Terutama wanita yang cantik. Hingga saat
ini saya termasuk laki-laki yang tidak laku-laku
Mbah,” ujar Kardiman dengan wajah memelas.
Mendengar permintaan Kardiman, Kyai Bogang
tertawa terbahak-bahak dengan memperlihatkan
rangkaian giginya yang benar bogang alias tidak
lengkap dan bolong-bolong, membuat wajah Kyai
Bogang menjadi super kocak dan lucu.
“Begini Mas. Jimat yang saya berikan itu harganya
mahal. Tergantung dari target wanita yang
sampean inginkan. Terus, model wanita seperti
apa yang Mas Kardiman mau untuk diperistri?”
Tanya Kyai Bogang kali ini dengan wajah serius.
Kardiman terdiam dan berfikir sejenak sebelum
akhirnya menjawab.
“Anu Mbah. Saya suka dengan wanita cantik yang
tinggi semampai. Badannya montok dan seksi.
Kulitnya putih dengan hidung mancung, mata
lebar, alis tebal, rambut hitam lurus” kata
Kardiman dengan penuh semangat
menggambarkan detail wanita yang
diinginkannya.
Kyai Bogang kemudian memainkan jari-jarinya di
atas permukaan layar sentuh tablet-pcnya.
“Apakah wanita yang kamu inginkan itu seperti
ini?” tanya Kyai Bogang sambil menujukkan
gambar seorang wanita yang ada di tablet-pcnya.
Pandangan Kardiman langsung terarah pada
gambar seorang wanita cantik unyu-unyu persis
seperti yang digambarkannya tadi.
“Loh Mbah… inikan gambarnya Maria Ozawa…,”
ujar Kardiman dengan nada terkejut. Dia tidak
menyangka tablet-pc Kyai Bogang bisa
menampilkan gambar Maria Ozawa walaupun
dalam balutan pakain yang sopan.
“Loh sampean sudah kenal ya sama wanita ini?”
tanya Kyai Bogang pura-pura serius.
“Itu memang wanita super cantik Mbah, tapi dia
inikan bukan wanita baik-baik Mbah,” seru
Kardiman dengan nada agak sewot. Dia tidak bisa
membayangkan Maria Ozawa yang merupakan
bintang JAV ini menjadi istrinya. Walau tanpak
cantik di luar, tapi pasti sudah dedel-duel di dalam.
“Lah katanya tadi minta yang cantik, rambut
hitam, kulit putih, mata lebar, dan tampilan fisik
lainnya. Tadi juga ghak menyebutkan wanita
tersebut beriman dan bertakwa dan termasuk
wanita baik-baik kan?” jawab Kyai Bogang lagi.
“Iya Mbah… Maksud saya ya wanita baik-baik.”
“Bagini, sering kali kita lebih mementingkan
kualitas fisik daripada kualitas iman, takwa dan
keribadiannya. Kalau Mas Kardiman ingin wanita
yang cantik dan sempurna secara fisik, berapa
banyak pelacur, ayam kampus, bintang film
porno dan pelaku maksiat mungkarot lainnya
yang secara fisik sempurna. Memang istri atau
suami yang cantik atau tampan itu akan
menyenangkan hati dan pandangan,” kata Kyai
Bogang mencoba memberikan pemahaman
kepada Kardiman.
“Ayo silahkan air putihnya diminum dulu,” kata
Kyai Bogang sambil menyodorkan segelas air
putih.
“Ini khasitanya apa Mbah? Apa supaya saya bisa
enteng jodoh?,” tanya Kardiman spontan.
“Hahaha… semprul… ya air putih ini kalau
diminum biar segar dan tidak haus toh,” ledek
Kyai Bogang menghadapai pertanyaan Kardiman
yang dianggapnya lugu.
“Memang, istri yang cantik itu tidak menjamin
kebahagiaan rumah tangga. Apalagi yang jelek
toh….,” sambung Kyai Bogang lagi sambil
tersenyum lebar.
“Berapa banyak artis atau orang-orang terkenal
yang berumah tangga kemudian tidak bahagia
walaupun suaminya tampan dan istrinya cantik.
Coba belajar dari kasusnya Pangeran Charles dan
Lady Diana. Kurang cantik, anggun dan kurang
apa Lady Diana? Namun kenyataannya Pangeran
Charles memilih Camila Paker Bowles yang kata
orang-orang tidak lebih cantik daripada Lady
Diana.”
Istri Jelek Lebih Utama?
Kyai Bogang berhenti sejenak untuk memberikan
kesempatan Kardiman meresapi kalimatnya.
“Pada akhirnya, kebahagian dalam rumah tangga
itu tidak ditentukan oleh kecantikan dan
ketampanan. Berumah tangga itu yang
diharapkan kebahagian dan ketenangan jiwa.
Justru banyak pria yang tidak kuat memikul beban
karena istrinya terlalu cantik, sehingga dia menjadi
cemburu dan posesif. Akibatnya bukan
kebahagiaan yang didapat, tetapi cemburu dan
kemarahan yang membuatnya tersiksa. Coba
kalau punya istri jelek, pendiam dan ghak neko-
neko. Pasti ghak pernah kuatir akan diselingkuhi
oleh orang lain toh…,” kata Kyai Bogang sambil
tersenyum lebar.
Kardiman hanya bisa menatap Kyai Bogang
dengan penuh takjub. Pikirannya mulai terbuka
untuk menentukan tujuan pernikahan dan
memilih calon istri yang benar. Dia
membayangkan istrinya secantik Nabila Syakieb .
Pasti jantungnya ghak akan kuat menahan
perasaan marah dan cemburu dan akibatnya dia
mati muda hanya karena istrinya terlalu cantik dan
banyak didekati buaya darat, laut dan udara.
“Nah gimana, coba pikirkan lagi kriteria istri yang
Mas Kardiman inginkan. Untuk jimat pengasihan
gampang, nanti saya tinggal siapkan. Tetapi tentu
saja harganya sesuai dengan permintaan.” lanjut
Kyai Bogang lagi.
“Baik Mbah. Saya sudah memutuskan untuk
mencari jodoh yang cantik, kaya raya, seiman,
baik hati, keibuan, dan sayang suami,” kata
Kardiman sambil tersenyum puas.
Berikutnya Kyai Bogang memainkan kembali jari-
jarinya di permukaan tablet-pcnya. Rupanya Kyai
Bogang sedang berusaha membuka file di
memory card.
“Baik, kalau itu pilihannya, maka mahar untuk
jimat pengasihannya cukup mahal. Mas Kardiman
harus sediakan mahar berupa uang sebesar 500
juta rupiah. Ibarat memancing, semakin besar
ikan yang ingin ditangkap, maka semakin besar
kail dan mahal umpan yang digunakan. Mas
Kardiman tidak mungkin berharap dapat ikan
kakap hanya dengan umpan cacing tanah. Jadi
kalau mau dapat wanita cantik, beriman, kaya
raya, maka 500 juta sudah pantas.”
“Waduh kok mahal sekali Mbah mahar jimat
pengasihannya. Apa ghak boleh kurang?” pinta
Kardiman dengan wajah memelas.
Kyai Bogang kemudian menunjukkan sebuah
tabel daftar harga jimat pengasihan yang ada di
tablet-pcnya kepada Kardiman.
“Baik, perhatikan tabel berikut ini. Saya
menyediakan 3 jenis jimat pengasihan. Untuk
jimat tipe super, harganya 500 juta. Mampu
menggaet wanita cantik dan kaya raya. Yang
kedua tipe premium seharga 200 juta. Mampu
menaklukkan wanita cantik yang kaya, namun
tidak sampai kaya raya. Sedangkan jimat
pengasihan tipe ekonomis, cuman 10 juta yang
mampu menggaet wanita biasa-biasa saja.
Bagaimana?”
Kardiman pusing juga mengetahui harga jimat
pengasihan Kyai Bogang yang semuanya tidak
terjangkau dengan tabungannya saat ini. Maklum,
Kardiman baru lulus kuliah dan baru bekerja 1
tahun ini sebagai pegawai pemasaran. Tinggal
saja masih di rumah kos dan belum mampu
membeli rumah sendiri.
“Mbah, mengapa jimat pengasihannya begitu
mahal?” tanya Kardiman dengan wajah lesu.
“Hahaha… lah Mas Kardiman sendiri yang
menentukan kriteria model wanita apa yang ingin
didapat. Kalau sampea ingin menikahi wanita yang
kaya raya, maka Mas Kardiman juga harus kaya
raya. Jangan menikahi karena hartanya dan
berharap mendapatkan kebahagiaan dari harta
yang dimiliki si wanita. Jadilah pria yang mulia
karena mampu menghidupi diri sendiri dari
keringat sendiri. Wanita kaya raya pasti pakainnya,
kosmetiknya harganya mahal-mahal. Makannya
biasa di restoran yang sekali makan habis 200-300
ribu. Kalau Mas Kardiman mau menikahi wanita
kaya raya, bagaimana bisa menghidupi mereka
sesuai standar minimal mereka? Bisa-bisa mereka
akan merasa tidak bahagia karena biasa hidup
mewah, namun setelah menikah dengan Mas
Kardiman, mereka malah hanya bisa makan pecel
lele dengan sambal tomat dari warung tenda.”
Kardiman semakin pusing mendengarkan
penjelasan Kyai Bogang. Namun dibalik rasa
pusingnya, dia bisa menerima alasan Kyai
Bogang. Rasanya tidak masuk akal bila Nabila
Syakieb yang biasa makan di restoran kemudian
diajak makan pecel lele dan tempe penyet setiap
hari gara-gara gajinya tidak cukup untuk bisa
membeli steak dan pizza. Belum lagi kalau Nabila
Syakieb harus syuting sinetron, tidak mungkin dia
mengantarkannya dengan sepeda motor butut
pemberian orang tuanya.
“Jadi harga jimat pengasihan Mbah sesuai dengan
strata sosial wanita yang ingin ditarik ya Mbah?”
“Betul. Semakin tinggi kelasnya, maka semakin
Mas Kardiman harus menyediakan uang yang
banyak untuk kehidupan mereka. Ingat, lebih
mudah mengajak wanita yang biasa hidup
sederhana daripada yang biasa hidup mapan dan
mewah. Jadi dari miskin menjadi kaya akan lebih
mudah, daripada dari biasa kaya kemudian jatuh
miskin gara-gara hidup dengan pria yang miskin
walaupun pada awalnya menikah atas nama cinta,
tetapi berikutnya abang beruang abang disayang.
Abang tak beruang, abang ditendang.
Hahahaha….,” kata Kyai Bogang sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Kalau yang wanita biasa-biasa saja mengapa kok
harganya sampai 10 juta Mbah?”
“Begini. Pada hakikatnya saya tidak dapat
memberikan benda ajaib ala jimat pengasihan
yang membuat seorang wanita yang memenuhi
kriteria bisa jatuh cinta kepada Mas Kardiman.
Saya hanya bisa memberi nasihat kepada Mas
Kardiman, dan nasihat saya gratis. Bukankah kita
harus saling nasihat-menasehati untuk dalam
kebaikan dan kesabaran, agar kita bisa menjadi
orang yang beruntung. Harga jimat di tabel ini
hanya simbol bahwa untuk mencapai sesuatu
yang diinginkan, semua ada harganya. Carilah
jodoh selain karena agamanya, juga yang
sebanding. Sebanding ekonominya, pemikirannya
dan sebanding sesuai kriteria lainnya, termasuk
penampilannya. Jangan sampai Mas Kardiman
mendapatkan wanita cantik sebagai istri itu sebuah
mukjizat, tetapi sebenarnya si wanita
mendapatkan Mas Kardiman sebagai suami itu
justru sebuah musibah.”
“Untuk wanita yang mungkin biasa-biasa saja
yang sesuai dengan tingkatan Mas Kardiman,
harga 10 juta itu adalah biaya untuk menikah dan
memulai kehidupan berumah tangga. Kalau sudah
punya uang 10 juta, carilah wanita yang
menggetarkan hati Mas kardiman karena iman,
takwa, amalan dan kebaikan hatinya. Syukur-
syukur kalau dia juga cantik menurut pandangan
mata pada umumnya. Tidak usah pacaran,
langsung dilamar dan seminggu berikutnya
menikah. InsyaAllah wanita yang demikian itu
akan lebih menentramkan hati Mas Kardiman
untuk mewujudkan ‘baiti jannati’ atau rumahku
surgaku.
Berjilbab Tetapi Telanjang
“Apakah saya harus mencari wanita yang
berjilbab?” tanya Kardiman dengan ragu-ragu.
“Apakah maksud sampean wanita berjilbab yang
seperti ini?” kata Kyai Bogang sambil
menunjukkan gambar seorang wanita berjilbab
yang begitu menarik di tablet-pcnya.
“Hahaha… inikah fotonya Maria Ozawa yang
direkayasa di komputer Mbah,” kata Kardiman
sedikit berteriak.
“Hahahaha…. iya benar,” jawab Kyai Bogang.
“Baik juga mencari istri yang karena iman dan
takwanya, dia mempunyai kesadaran untuk
menutup auratnya secara baik. Namu perlu Mas
Kardiman pahami, tidak semua wanita yang
berjilbab itu didasarkan atas ketakwaan. Ada juga
yang karena terpaksa karena tuntutan sekolah,
tempat kerja atau lingkungan. Ada juga yang
berjilbab karena trend mode belaka dan ingin
tampak lebih modis. Ada juga yang berjilbab
karena sudah mulai tua dan rambutnya beruban,
sehingga jilbab hanya digunakan untuk menutupi
usianya dan supaya tiak repot menyemir atau
menata rambutnya.”
Kyai Bogang berhenti sejenak sambil menarik
nafas dalam-dalam.
“Saya prihatin dengan wanita yang berjilbab
namun perilaku mereka tidak menunjukkan
mereka paham hakikat berjilbab atau berhijab.
Sebagian dari mereka berjilbab dengan cara yang
salah dengan baju dan celana yang ketat dan
menampakkan lekuk tubuh di dada dan bokong.
Sebagian lagi berjilbab, namun saat menerima
tamu atau main ke rumah tetangganya keluar
rumah dengan melepas jilbabnya. Sebagian lagi
berjilbab, namun berjalan-jalan bergandengan
tangan dan berpelukan dengan yang bukan
muhrimnya saat berboncengan. Sebagian lagi
berjilbab namun sok akrab dengan teman pria
yang bukan muhrimnya dengan memegang
tangan atau menepuk-nepuk pundaknya.
Sebagian lagi ada wanita yang berjilbab yang
kalau dijawil atau dipegang-pegang pria yang
bukan muhrimnya, tidak menunjukkan
kemarahan jutru hanya dianggap bercanda ria
saja. Sebagian lagi berkhalwat dengan yang bukan
muhrimnya walaupun tidak dalam satu tempat.
Mereka ini adalah wanita yang tidak mengerti
hakikat perintah berhijab. Akibatnya menjadi
dipegang boleh, dilihat jangan. Menyedihkan…”
sambung Kyai Bogang sambil menangkupkan
kedua tangannya.
“Apa maksud Mbah pria dan wanita yang
berduaan atau berkhalwat tidak dalam satu tempat
yang sama?” tanya Kardiman penasaran.
“Teknologi komunikasi dan informasi membuat
manusia saling terhubung. Bila jaman dahulu,
berkhalwat itu adalah pria dan wanita yang bukan
muhrimnya berada pada satu tempat yang sama.
Namun sekarang tidak lagi demikian. Pria dan
wanita ngobrol berdua hingga larut malam
dengan chatting, telpon, bahkan video call. Tak
jarang pembicaraan mengarah ke yang bersifat
pribadi dan seksual seperti phonesex. Apalagi
kemudian saling menunjukkan auratnya di depan
webcam. Ya, itulah bentuk khalwat di jaman
modern. Sebagian wanita tanpa sadar berkhalwat
dengan yang bukan muhrimnya hingga larut
malam. Jangan lihat jilbabnya yang terkadang
hanya sebagai aksesoris. Lihatlah perilakunya.”
Kardiman terdiam menyelami perkataan Kyai
Bogang yang dia tahu memang banyak terjadi di
sekitarnya. Dia sering kali melihat wanita berjilbab
namun dengan tampilan seksi dengan alasan
trendy. Akibatnya dada dan bokong tampak
menonjol dengan bentuk celana ketat mengikuti
lekuk tubuh. Seolah-olah mereka ini berpakaian
tetapi pada hakikatnya telanjang.
“Lalu bagaimana supaya saya bisa dapat jodoh
Mbah?”
“Jangan mencari istri dari wanita yang ditemui di
pinggir jalan dan tempat maksiat seperti tempat
dugem. Bergaulah dengan orang-orang baik dan
perluas pergaulan agar bisa bertemu dengan
jodoh yang baik pula. Jadilah pribadi yang baik
dan hebat baik di tempat kerja maupun di
lingkungan tempat tinggal. Bahwa pria yang baik
akan mendapatkan wanita- yang baik dan
begitupula sebaliknya’. Bekerjalah yang keras dan
cerdas agar mapan secara finansial, agar Mas
Kardiman menjadi pria yang pantas pula untuk
mendapatkan wanita yang hebat dan
menghebatkan Mas Kardiman.”
“Terakhir, tingkatkan ibadah dengan sholat malam
dan bermunajatlah kepada Allah. Semoga Allah
memberikan Mas Kardiman jodoh yang terbaik di
sisi Allah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
Berdoalah, Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta
orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal
yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu”
Hari itu, Kardiman pulang dengan kesadaran baru
untuk meluruskan niat dalam mendapatkan
jodoh. Dia tidak lagi ingin pacaran hanya untuk
bersenang-senang dan agar tidak dicap pria
jomblo yang tidak laku. Kardiman bertekad untuk
menyiapkan dirinya jauh lebih baik lagi, agar jika
jodohnya datang, dia sudah siap untuk langsung
menikah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s